Workshop Psychological First Aid (PFA) bagi Guru SD
Workshop Psychological First Aid (PFA) bagi Guru SD

By DPPPAPMD KAB PURWOREJO 29 Okt 2026, 15:38:12 WIB Pemerintahan
Workshop Psychological First Aid (PFA) bagi Guru SD

Langkah nyata untuk mewujudkan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan ramah anak terus diperkuat oleh Pemerintah Kabupaten Purworejo. Melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPPPAPMD) Kabupaten Purworejo, sebanyak 160 guru Sekolah Dasar (SD) mengikuti Workshop Psychological First Aid (PFA) bagi Guru, Kamis, 29 Oktober 2026 pukul 08.30 WIB - selesai bertempat di Pendopo Kecamatan Purworejo. Mengusung semangat “Aman, Empatik, dan Terarah”, kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk membekali para guru agar tidak hanya piawai mengajar di ruang kelas, tetapi juga sigap memberikan pertolongan psikologis awal ketika murid mengalami tekanan emosional, ketakutan, kecemasan, perundungan, konflik, kehilangan, maupun situasi sulit lainnya.

Bukan Sekadar Mengajar, Guru Juga Harus Mampu Mendampingi! Sekolah bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang tumbuh bagi anak untuk merasa aman, dihargai, dan didukung. Dalam keseharian, guru kerap menjadi orang dewasa pertama yang menyaksikan perubahan perilaku atau kondisi emosional murid. Karena itu, kemampuan merespons situasi secara tenang, tepat, dan penuh empati menjadi keterampilan yang sangat penting. Melalui workshop ini, para guru diajak memahami bahwa pertolongan psikologis awal bukanlah terapi atau konseling profesional, melainkan bentuk dukungan awal yang manusiawi, suportif, dan praktis. Tujuannya membantu anak merasa lebih aman, didengar, serta terhubung dengan bantuan yang sesuai kebutuhannya.

Kenali, Dengarkan, Hubungkan! Tiga Langkah Penting PFA. Dalam materi workshop, peserta diperkenalkan pada pendekatan Look – Listen – Link, yaitu tiga langkah utama dalam memberikan pertolongan psikologis awal. LOOK (Amati): mengenali situasi, memastikan keamanan, serta mengidentifikasi kebutuhan mendesak anak. LISTEN (Dengarkan): mendekati anak dengan tenang, mendengarkan tanpa menghakimi, dan memberikan ruang bagi anak untuk menyampaikan perasaan tanpa paksaan. LINK (Hubungkan): menghubungkan anak dengan dukungan sosial, pihak sekolah, orang tua atau wali yang aman, tenaga kesehatan, psikolog, maupun layanan perlindungan sesuai kebutuhan. Pendekatan ini menegaskan bahwa respons guru tidak harus selalu berupa nasihat panjang. Terkadang, kehadiran yang menenangkan, kesediaan mendengarkan, dan bantuan untuk menemukan jalan keluar justru menjadi langkah awal yang sangat berarti bagi anak.

Lawan Perundungan, Bangun Sekolah yang Lebih Suportif! Materi workshop juga membahas berbagai situasi yang mungkin dihadapi guru, mulai dari murid yang menangis setelah ditegur, perundungan langsung maupun digital, konflik antarteman, hingga anak yang menunjukkan tanda-tanda tekanan psikologis setelah mengalami peristiwa mengejutkan. Melalui diskusi kasus, latihan komunikasi suportif, simulasi bermain peran (role-play), dan refleksi kelompok, peserta didorong untuk membedakan fakta dari asumsi, mengenali kebutuhan anak, serta memilih respons yang tidak mempermalukan atau memperburuk kondisi murid. Guru juga diingatkan untuk menghindari ucapan yang meremehkan perasaan anak, memaksa anak menceritakan pengalaman traumatis, atau memberikan janji yang belum tentu dapat dipenuhi. Sebaliknya, guru perlu menggunakan komunikasi yang menenangkan, menghormati martabat anak, menjaga privasi, dan mengutamakan keselamatan.

Guru Bukan Psikolog, tetapi Bisa Menjadi Penolong Pertama! Salah satu pesan penting dalam workshop ini adalah bahwa guru tidak harus menjadi psikolog untuk memberikan pertolongan awal yang bermakna. Namun, guru perlu memahami batas perannya dan mengetahui kapan harus meminta bantuan lebih lanjut. Ketika ditemukan indikasi kekerasan, pelecehan, ancaman keselamatan, kondisi medis darurat, atau risiko anak menyakiti diri sendiri maupun orang lain, guru perlu  mengaktifkan dukungan dan mengikuti prosedur penanganan serta rujukan yang berlaku. Dengan demikian, anak tidak dibiarkan menghadapi masalahnya sendirian. Selain keterampilan mendampingi murid, workshop juga mendorong setiap sekolah menyusun peta rujukan sederhana. Peta ini diharapkan membantu guru mengetahui siapa yang perlu dihubungi, layanan apa yang dapat diakses, dan bagaimana tindak lanjut dilakukan secara aman serta terarah.

Wujudkan Sekolah Ramah Anak, Dimulai dari Kepedulian Guru! Melalui kegiatan ini, DPPPAPMD Kabupaten Purworejo memperkuat upaya peningkatan kapasitas guru dalam memberikan dukungan psikologis awal di lingkungan sekolah. Harapannya, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat diterapkan dalam keseharian sehingga sekolah semakin mampu merespons kebutuhan emosional anak secara manusiawi, empatik, dan bertanggung jawab.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment